Umum

Como Tekuk Venezia, Penalti Da Cunha Bawa Tim Fabregas Terbang

Oleh | | 18:06 WIB

Como Tekuk Venezia, Penalti Da Cunha Bawa Tim Fabregas Terbang

Como 1907 resmi mencatatkan salah satu torehan paling bersejarah dalam eksistensi klub mereka di kasta tertinggi sepak bola Italia. Dalam laga lanjutan Serie A musim 2026/2027 yang berlangsung di Stadion Giuseppe Sinigaglia pada Minggu (1/11/2026), tim asuhan Cesc Fabregas berhasil mengamankan kemenangan krusial 1-0 atas Venezia. Hasil ini bukan sekadar tambahan tiga poin, melainkan pernyataan ambisius bahwa I Lariani kini telah bertransformasi menjadi kekuatan yang patut diperhitungkan di papan atas klasemen Serie A, sekaligus menjadi suntikan moral krusial sebelum mereka bertandang ke Prancis untuk melakoni laga krusial Liga Champions melawan Lens tengah pekan nanti.

Sejak peluit babak pertama dibunyikan, Como 1907 langsung menunjukkan intensitas permainan yang sangat tinggi. Di bawah arahan taktik Cesc Fabregas yang mengandalkan penguasaan bola dan sirkulasi cepat, tuan rumah benar-benar mengurung pertahanan Venezia. Statistik mencatat dominasi mutlak bagi Como, dengan penguasaan bola mencapai angka fantastis 76% dalam 18 menit pembuka. Strategi "parkir bus" atau pertahanan lima bek yang diterapkan pelatih Venezia, Davide Nicola, dipaksa bekerja ekstra keras untuk membendung gelombang serangan yang dikomandoi oleh Nico Paz di lini tengah.

Namun, permainan defensif Venezia bukanlah tanpa perlawanan. Mereka sangat mengandalkan ketangguhan kiper Filip Stankovic di bawah mistar gawang. Stankovic tampil layaknya tembok raksasa, melakukan serangkaian penyelamatan heroik yang membuat frustrasi para penyerang Como. Salah satu momen krusial terjadi ketika ia berhasil menepis tendangan rendah nan tajam dari Lucas Da Cunha, yang sebenarnya sudah mengarah tepat ke sudut gawang. Tekanan yang terus mengalir dari sundulan Kaiki serta upaya individual dari Martin Baturina juga berhasil dimentahkan oleh koordinasi lini belakang Venezia yang disiplin.

Drama pertandingan sempat memuncak pada menit ke-28 ketika wasit Maria Sole Ferrieri Caputi menunjuk titik putih bagi Venezia. Keputusan tersebut diambil setelah Luis Milla dianggap melakukan handball di dalam kotak penalti Como. Sontak, keputusan ini memicu protes keras dari para pemain tuan rumah. Ketegangan di lapangan mencair sejenak setelah wasit memutuskan untuk meninjau kembali kejadian melalui on-field review VAR. Hasil peninjauan menunjukkan bahwa bola menyentuh tangan Milla dalam posisi yang tidak disengaja dan tidak dalam upaya menghalangi arah bola secara aktif. Wasit akhirnya membatalkan penalti tersebut, keputusan yang membuat publik Giuseppe Sinigaglia bergemuruh lega.

Setelah selamat dari ancaman, Como kembali meningkatkan tempo serangan. Kebuntuan akhirnya pecah pada menit ke-43. Sebuah pelanggaran yang dilakukan oleh Juan Jesus terhadap penyerang Tasos Douvikas di dalam kotak terlarang memberikan kesempatan emas bagi Como. Lucas Da Cunha, yang dipercaya sebagai eksekutor, menunjukkan ketenangan luar biasa di bawah tekanan. Dengan satu ancang-ancang yang mantap, ia melepaskan sepakan presisi ke pojok kiri atas gawang. Meski Stankovic mampu membaca arah bola, akurasi dan kecepatan sepakan Da Cunha tidak mampu dibendung, membuat jaring gawang Venezia bergetar dan mengubah skor menjadi 1-0.

Memasuki babak kedua, dinamika permainan berubah. Venezia yang tertinggal mulai berani keluar dari zona nyaman mereka. Davide Nicola mencoba melakukan perubahan taktik dengan memasukkan tenaga-tenaga segar seperti Kike Perez dan John Yeboah untuk memberikan dimensi baru pada serangan mereka. Yeboah, yang dikenal dengan kecepatan dan tembakan jarak jauhnya, sempat menebar ancaman nyata melalui dua sepakan spekulatif yang meluncur deras, namun akurasinya masih belum cukup untuk menaklukkan kiper Como.

Di sisi lain, Fabregas merespons tekanan tersebut dengan melakukan rotasi pemain untuk menjaga stabilitas lini tengah dan pertahanan. Como hampir saja menggandakan keunggulan melalui aksi individu Martin Baturina yang sempat melewati dua bek lawan, namun penyelesaian akhirnya masih mampu diblok. Yan Couto juga memiliki peluang emas di penghujung laga melalui serangan balik cepat, namun lagi-lagi Stankovic menjadi penghalang utama bagi Como untuk mencetak gol kedua.

Pada menit-menit akhir pertandingan, Venezia mencoba melakukan all-out attack. Namun, lini pertahanan Como yang dikomandoi oleh Marc-Oliver Kempf tampil sangat solid dan disiplin. Kempf berhasil memenangkan duel-duel udara penting, sementara koordinasi bek sayap memastikan tidak ada ruang bagi pemain Venezia untuk mengirim umpan silang berbahaya ke kotak penalti. Hingga peluit panjang dibunyikan, skor 1-0 tetap bertahan untuk keunggulan Como 1907.

Kemenangan ini mencatatkan rekor start terbaik dalam sejarah klub di Serie A. Perjalanan Fabregas bersama Como sejauh ini dianggap sebagai salah satu proyek paling sukses di Italia dalam beberapa tahun terakhir. Mereka berhasil memadukan talenta muda dengan kedisiplinan taktis yang tinggi. Di sisi lain, kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Venezia. Mereka kini semakin terbenam di dasar klasemen dengan catatan yang sangat mengkhawatirkan, yakni hanya mampu mengumpulkan tiga poin dari sepuluh pertandingan awal musim. Bagi tim asuhan Davide Nicola, ini adalah alarm bahaya yang menunjukkan bahwa mereka harus segera melakukan evaluasi total jika tidak ingin terdegradasi lebih awal.

Secara statistik, kemenangan ini menunjukkan efisiensi Como di depan gawang meskipun mereka sempat kesulitan menembus pertahanan berlapis. Berikut adalah data kunci performa kedua tim dalam laga tersebut:

  • Penguasaan Bola: Como (68%) – Venezia (32%)
  • Total Tembakan: Como (17) – Venezia (8)
  • Tembakan Tepat Sasaran: Como (7) – Venezia (2)
  • Akurasi Operan: Como (89%) – Venezia (76%)
  • Penyelamatan Kiper: Filip Stankovic (6) – Penjaga Gawang Como (2)

Bagi Cesc Fabregas, kemenangan ini adalah modal berharga. Fokus tim kini langsung dialihkan ke ajang kompetisi Eropa. Menghadapi Lens di Liga Champions akan menjadi ujian sesungguhnya bagi kedalaman skuad Como. Kemenangan atas Venezia setidaknya memastikan bahwa kepercayaan diri para pemain sedang berada di titik tertinggi. Fabregas menyadari bahwa rotasi akan menjadi kunci dalam jadwal padat bulan November ini. Dengan dukungan penuh dari manajemen dan suporter, Como 1907 kini bukan lagi sekadar tim promosi yang menumpang lewat, melainkan penantang serius yang siap terbang lebih tinggi di panggung sepak bola Italia dan Eropa. Kemenangan di Giuseppe Sinigaglia ini akan selalu dikenang sebagai salah satu langkah penting dalam perjalanan transformasi klub yang kini tengah menatap masa depan yang cerah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *